Suara Karya

Wamen Stella Tegaskan Duplikasi Riset adalah Kekuatan, Bukan Ancaman

BANDUNG (Suara Karya): Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie menegaskan, duplikasi riset bukanlah ancaman, melainkan justru kekuatan dalam mendorong inovasi.

Hal itu disampaikan Stella kepada media dalam Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Bandung, Jumat (8/8/25).

Hadir dalam kesempatan yang sama, peraih Nobel Fisika 2011, Prof Brian Schmidt; Presiden Australian Academy of Science (AAS), Chennupati Jagadish; Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang), Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman; Dirjen Sains dan Teknologi (Saintek), Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani; dan Rektor ITB, Tatacipta Dirgantara.

Untuk itu, Wamen Stella meminta kepada para peneliti untuk tidak perlu takut bersaing. Kompetisi dan kolaborasi adalah dua pilar penting dalam membangun ekosistem riset yang terbuka dan sehat.

Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi kekhawatiran terkait banyaknya duplikasi riset di perguruan tinggi, yang sering dianggap memboroskan anggaran dan menghasilkan output yang tumpang tindih.

Namun menurut Stella, pendekatan sempit terhadap duplikasi justru bisa menghambat semangat eksplorasi ilmiah. Dalam sains, justru banyaknya peneliti di bidang yang sama, memperbesar kemungkinan terciptanya terobosan baru.

“Materi penelitian boleh sama, tetapi bisa dibuat dengan sudut pandang yang berbeda. Karena para peneliti jenius seperti mereka juga melakukan hal yang sama,” kata Stella Christie seraya menunjuk Brian Schmidt maupun Chennupati Jagadish yang duduk disampingnya.

Wamen Stella juga mengungkap langkah konkret pemerintah dalam memperkuat fondasi riset nasional. Dua pilar utama menjadi fokus, yaitu pendanaan dan deregulasi.

“Pemerintah telah meningkatkan alokasi dana riset hingga 80 persen dan akan meluncurkan dana prioritas sebesar Rp1,8 triliun untuk mendukung riset strategis di universitas,” katanya.

Selain itu, regulasi administratif disederhanakan agar para peneliti bisa lebih fokus pada substansi riset daripada urusan birokrasi.

Wamen Stella optimis, riset dan inovasi anak bangsa akan menjadi motor penggerak transformasi menuju Indonesia sebagai pusat teknologi berkelas dunia.

Dalam forum yang sama, Prof Brian Schmidt menekankan pentingnya peran negara dalam membangun ekosistem riset yang tangguh dan terintegrasi.

“Investasi strategis diperlukan agar universitas, laboratorium riset, dan industri bisa saling terhubung dalam kerja sama jangka panjang,” ucapnya.

Ia juga menyoroti pentingnya desain ekosistem inovasi yang didukung lokasi yang tepat dan insentif yang kuat.

Tak hanya itu, Schmidt juga mengkritisi sistem pemeringkatan universitas global yang dinilainya tidak relevan dengan kebutuhan lokal. Ia menyerukan pengembangan metrik yang lebih kontekstual.

Kehadiran ilmuwan dunia pada KSTI 2025 diharapkan dapat membantu pemerintah dalam membangun riset yang kolaboratif, berdaya saing, dan berdampak nyata pada masyarakat Indonesia. (Tri Wahyuni)

Related posts