Suara Karya

BPJPH Siap Kembangkan Halal Club, Bidik Ekosistem Halal Dunia

JAKARTA (Suara Karya): Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) menyiapkan langkah baru untuk memperluas jejaring halal Indonesia ke berbagai negara melalui pengembangan Halal Club.

Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hasan mengatakan, Halal Club akan dikembangkan di sejumlah negara sebagai wadah membangun komunikasi, kolaborasi, dan jejaring antarpemangku kepentingan halal.

“Rencana kita luar biasa, yaitu mendirikan Halal Club di beberapa negara,” kata Haikal dalam sambutan penutupan ‘The 5th Halal 20 (H20) Summit 2026’ di Jakarta, Minggu malam (20/9/26).

Menurut Haikal, pengembangan Halal Club menjadi bagian dari strategi Indonesia membangun ekosistem halal dunia secara bertahap. Jejaring tersebut akan dibangun melalui hubungan Indonesia dengan berbagai kawasan, termasuk Eropa, Amerika, dan Australia.

“Kita akan membangun Indonesia-Eropa Halal Club, Indonesia-Amerika Halal Club, Indonesia-Australia Halal Club,” ujarnya.

Haikal mengatakan, pengembangan jejaring tidak harus dimulai dalam skala besar. Indonesia akan membangunnya secara bertahap dari jaringan kecil yang kemudian diperluas.

“Kita membuatnya kecil, kecil, kecil, karena kita memulainya kecil,” katanya.

Ia menilai, kekuatan ekosistem halal global hanya dapat dibangun melalui kolaborasi antarnegara. Indonesia, tidak dapat berjalan sendiri dalam mewujudkan cita-cita tersebut.

Haikal menegaskan, Halal Club bukan sekadar wadah pertemuan, tetapi bagian dari upaya membangun komunitas halal yang lebih luas hingga tingkat dunia.

Ia membayangkan terbentuknya jejaring halal yang memungkinkan negara-negara saling mengenali, memahami, dan bekerja sama dalam mengembangkan standar halal.

Menurut Haikal, halal memiliki potensi menjadi salah satu komunitas terbesar di dunia karena dapat diterima oleh berbagai negara dan kelompok masyarakat.

“Kalau kita memiliki satu standar, satu logo, satu metode, ini adalah komunitas terbesar di dunia. Itu halal,” ujarnya.

Gagasan tersebut sejalan dengan impian Haikal agar halal memiliki standar global sebagaimana ISO.

Ia menilai, pembentukan standar halal dunia membutuhkan proses panjang melalui dialog, seminar, pertukaran pengetahuan, dan kerja sama antarnegara.

“Kenapa ISO bisa menjadi standar dunia? Kenapa tidak halal,” kata Haikal mempertanyakan.

Haikal menyebut lebih dari 80 negara telah siap menerima standar halal yang dikembangkan Indonesia. Sosialisasi mengenai kebijakan dan sistem jaminan produk halal juga terus dilakukan ke berbagai negara.

Selain membangun Halal Club, BPJPH menyiapkan kerja sama melalui penambahan scope atau ruang lingkup dengan sejumlah negara.

Langkah itu diharapkan membuka peluang transfer teknologi ke Indonesia, khususnya dari negara-negara maju di Eropa, Amerika, Australia, dan kawasan lainnya.

“Penambahan scope ini akan memudahkan transfer teknologi untuk Indonesia dari negara-negara maju di Eropa, Amerika dan sekitarnya, termasuk Australia dan negara lainnya,” kata Haikal.

Dengan demikian, jejaring Halal Club diharapkan tidak berhenti pada komunikasi dan promosi, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang mempertemukan kepentingan perdagangan, teknologi, pengetahuan, sertifikasi, dan pengembangan industri halal.

Pengembangan jejaring global itu juga menjadi bagian dari penguatan ekosistem halal Indonesia menjelang penerapan Wajib Halal Oktober 2026. (Tri Wahyuni)

Related posts