JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan Program Bestari Saintek 2026 dengan pesan tegas, yaitu riset tak boleh berhenti di jurnal ilmiah atau sekadar prototipe, tetapi harus menembus hilirisasi dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Program yang mendapat dukungan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Kementerian Keuangan itu berhasil menyeleksi 122 tim riset terbaik dari 8.951 pendaftar. Dana yang digelontorkan mencapai Rp57,5 miliar, dengan tingkat penyerapan mencapai hampir 100 persen.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menegaskan, ukuran keberhasilan riset dalam Program Bestari Saintek bukan dari sisi jumlah publikasi atau paten, melainkan seberapa besar hasil penelitian mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Peneliti tidak boleh merasa puas, jika penelitian di tahap prototipe. Karena, tantangan terbesar riset nasional justru berada pada fase ‘lembah kematian’ (death valley), dimana prototipe tersebut harus bisa menembus pasar dan diadopsi industri,” kata Brian dalam acara yang digelar di Jakarta, Rabu (29/4/26).
Ia menambahkan, paten pun bukan tujuan akhir. Paten baru bernilai ketika sudah dikomersialisasikan dan menghasilkan royalti bagi kampus maupun inventor. “Patent menjadi bernilai ketika digunakan industri dan menghasilkan royalti,” ucapnya menegaskan.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani menjelaskan, proses seleksi Bestari Saintek berlangsung sangat ketat.
“Dari 8.951 pendaftar yang mengajukan Expression of Interest (EoI), ada 2.499 pengusul berlanjut ke tahap dokumen, lalu mengerucut menjadi 545 proposal teknis. Pada tahap akhir, hanya 122 tim atau 4,9 persen dari total pendaftar, yang dinyatakan lolos pendanaan,” tutur Najib.
Ditambahkan, proposal terpilih tersebar merata di 24 provinsi dan terbagi dalam 8 sektor strategis nasional. Bidang pangan dan pertanian menjadi yang terbanyak dengan 45 tim, disusul sosial humaniora, seni budaya, dan pendidikan sebanyak 32 tim.
“Bidang kemaritiman ada 12 tim, teknologi informasi dan komunikasi 9 tim, kebencanaan 8 tim, kesehatan dan obat 8 tim, energi baru terbarukan 6 tim, serta material maju sebanyak 4 tim,” ucapnya.
Najib menegaskan Bestari Saintek mengusung konsep Non-Traditional Research Output (NTRO), yakni luaran riset yang tidak berhenti pada publikasi, tetapi berorientasi pada solusi nyata.
“Fokus utama riset ini adalah menyelesaikan problem masyarakat, dimanfaatkan industri, dan bisa di-scale up. Patent itu penting, tetapi bukan tujuan utama,” tegasnya.
Ia menyebut Program Bestari Saintek 2026 melibatkan 56 mitra industri utama, 64 perguruan tinggi, empat organisasi internasional, serta berbagai kementerian, dan pemerintah daerah.
Dari sisi pendanaan, Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto menyampaikan, dari total alokasi Rp57,5 miliar, dana yang terserap mencapai Rp57,176 miliar untuk mendukung 122 tim riset, 341 mitra, dan keterlibatan 854 dosen serta tenaga kependidikan.
“LPDP menaruh harapan besar pada program Bestari Saintek. Semoga program ini dapat memberi dampak dan hasil di sekitar kita, mendorong kolaborasi partisipatif, dan memanfaatkan hasil riset untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia,” kata Ayom.
Ia menegaskan, pendanaan riset adalah investasi jangka panjang yang harus menghasilkan inovasi yang siap diadopsi secara luas.
Dari sisi industri, Environmental, Social, and Governance (ESG) Dept Head FKS Group, Chondro Rini menjelaskan, FKS menjalankan dua riset bersama, yakni inovasi ragi tempe bersama Universitas Indonesia (UI) melalui FKS Multi Agro, serta inovasi mesin opak bersama Politeknik ATMI di Wonosobo.
FKS yang bergerak di sektor food and agri menilai kolaborasi riset dengan kampus menjadi langkah strategis untuk memperkuat industri sekaligus menjaga kearifan lokal.
“Kami ingin mengembangkan snacking lokal, salah satunya produk opak di Wonosobo. Kami membantu dari sisi teknologi agar produksi meningkat dan kesejahteraan masyarakat ikut naik,” ujar Chondro Rini menandaskan. (Tri Wahyuni)
