Suara Karya

Fenomena ‘Rojali’ dan ‘Rohana’ Tak Goyahkan Ekonomi Jakarta

JAKARTA (Suara Karya): Fenomena “Rombongan Jarang Beli” (Rojali) dan “Rombongan Hanya Nanya” (Rohana) belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan kerap dikaitkan dengan melemahnya daya beli masyarakat. Namun, Bank Indonesia (BI) menilai tren tersebut tak berpengaruh signifikan terhadap perekonomian Jakarta.

Deputi Kepala Perwakilan BI DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menegaskan daya beli warga ibu kota tetap tangguh. “Dari sisi purchasing power, Jakarta punya daya tahan yang kuat. Kondisi ini membuat perekonomian tetap berjalan positif,” ujarnya di Jakarta, Jumat (8/8/2025).

Data BI menunjukkan, konsumsi rumah tangga pada Triwulan II 2025 masih tumbuh solid sebesar 5,13 persen secara tahunan (year on year), meski sedikit melambat dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat 5,36 persen. “Konsumsi masih di atas 5 persen, dan kontribusinya terhadap perekonomian Jakarta hampir mencapai 60 persen,” kata Iwan.

Konsumsi pemerintah pada periode yang sama juga tumbuh 5,16 persen, walau melandai dari 9,22 persen setahun sebelumnya akibat normalisasi belanja pegawai dan bantuan sosial.

Hampir semua sektor utama lapangan usaha mencatatkan kinerja positif. Perdagangan tumbuh 5,91 persen, naik signifikan dari 4,35 persen tahun lalu, didorong lonjakan aktivitas belanja saat libur sekolah, cuti bersama, dan Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Sektor informasi dan komunikasi juga meningkat 5,65 persen berkat tingginya konsumsi data internet dan ramainya penonton bioskop di masa libur.

Pertumbuhan turut terjadi pada sektor konstruksi, jasa perusahaan, akomodasi dan makan minum, transportasi, hingga pergudangan—yang semuanya terdorong aktivitas tinggi masyarakat selama libur panjang dan perayaan hari besar seperti Paskah, Waisak, Iduladha, dan Tahun Baru Islam.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Jakarta tumbuh 5,18 persen pada Triwulan II 2025, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,12 persen. DKI Jakarta juga menjadi kontributor terbesar perekonomian nasional, menyumbang 16,61 persen pada periode tersebut. (Boy)

 

 

 

 

Related posts