JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah mendorong perguruan tinggi menjadi motor pengembangan teknologi pengolahan sampah untuk mempercepat penyelesaian sampah nasional.
Kolaborasi riset dengan kampus dinilai menjadi kunci agar Indonesia mampu menghadirkan teknologi pengolahan sampah, mulai dari skala rumah tangga hingga fasilitas berkapasitas besar.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains dan Teknologi Indonesia (KSTI) 2026 hari kedua yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Indonesia (MRPTNI), di Jakarta, Sabtu (27/6/26).
Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan), Zulkifli Hasan menegaskan, pemerintah tidak mungkin menyelesaikan persoalan strategis, termasuk pengelolaan sampah, tanpa dukungan perguruan tinggi.
Indonesia membutuhkan berbagai inovasi teknologi, mulai dari teknologi sederhana yang dapat diterapkan di tingkat desa hingga fasilitas pengolahan sampah berkapasitas besar.
“Kalau kita ingin menyelesaikan persoalan sampah pada 2029, semuanya perlu alatnya. Mulai teknologi yang sederhana sampai yang rumit. Dan itu tidak mungkin kami kerjakan sendiri,” kata Zulkifli Hasan.
Ia mengungkapkan, kemampuan teknologi pengolahan sampah di dalam negeri masih perlu ditingkatkan. Saat ini, teknologi yang dikembangkan Institut Teknologi Bandung (ITB) baru mampu mengolah sekitar 200 ton sampah per hari.
Sementara kebutuhan di berbagai daerah mencapai lebih dari 1.000 ton per hari. Selain teknologi berskala besar, pemerintah juga perlu inovasi lain seperti Refuse Derived Fuel (RDF) maupun teknologi pengolahan sampah skala rumah tangga.
Menurut Zulkifli Hasan, kolaborasi dengan perguruan tinggi juga dibutuhkan untuk memperkuat sektor pangan. Ia mencontohkan rendahnya produktivitas tebu nasional, dibandingkan negara lain masih dipengaruhi keterbatasan teknologi.
“Thailand bisa memproduksi gula dengan biaya sekitar Rp4.000 per kilogram, Brasil sekitar Rp3.800, sedangkan Indonesia mencapai Rp15.000. Ini persoalan teknologi dan riset,” katanya.
Ia juga menyoroti ketergantungan Indonesia terhadap benih unggul, baik jagung maupun perikanan, yang menurutnya harus dijawab melalui penguatan riset di perguruan tinggi agar Indonesia semakin cepat mencapai kedaulatan pangan dan energi.
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan percepatan implementasi teknologi pengolahan sampah skala mikro, hasil inovasi perguruan tinggi sebagai pelengkap pembangunan fasilitas Waste to Energy.
“Berbagai teknologi yang dikembangkan kampus tidak boleh berhenti sampai prototipe atau publikasi ilmiah, tetapi harus segera dihilirisasikan agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Melalui KSTI 2026, pemerintah berharap sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan pelaku usaha semakin kuat sehingga berbagai hasil riset dapat menjadi solusi konkret bagi persoalan bangsa, mulai dari pengelolaan sampah, ketahanan pangan, hingga penguatan kemandirian teknologi nasional. (Tri Wahyuni)
