Suara Karya

Tim Indonesia Menang di Ajang YSE Global 2023 di Singapura

JAKARTA (Suara Karya): Dua tim asal Indonesia berhasil menjadi juara dalam kompetisi bertajuk ‘Young Social Entreprenuers’ (YSE) yang diselenggarakan Singapore International Foundation (SIF) di Singapura, Selasa (21/11/23).

Total pemenang YSE ada 6 tim dari 5 negara, yaitu dari Indonesia (ReservoAir dan Rumah Briket), India (Anubhuti Samiti), China (China House), Laos (LeLao), serta kolaborasi Singapura dan China (HomePal). Jumlah peserta total ada 15 orang.

Enam tim wirausaha sosial itu mempresentasikan ide bisnis terbaik, yang membahas masalah sosial dan lingkungan. Hal itu termasuk layanan konservasi air, kesehatan mental, pernyediaan keterampilan dan teknologi untuk masyarakat yang kurang terlayani, dan pemberdayaan perempuan.

Peserta Program Global YSE 2023 mendapat dukungan pembimbingan tingkat tertinggi selama 14 tahun sejarahnya.

Sebanyak 82 mentor sukarelawan menghabiskan lebih dari 330 jam untuk membimbing tim peserta. Jumlah itu meningkat hingga 32 persen dibanding tahun sebelumnya.

YSE bahkan memecahkan rekor jumlah durasi waktu terlama, yang dilakukan para mentor sukarelawan.

Bimbingan bersama para mentor dimulai pada Lokakarya YSE Global 2023 pada 7-10 Juni 2023. Para mentor terdiri dari profesional bisnis dan wirausaha sosial yang sudah sukses.

Pada tahap awal, para mentor membimbing 46 tim untuk memperkuat fondasi dan strategi bisnis mereka. Dari jumlah itu diseleksi hingga terpilih 15 tim yang dinilai layak untuk ikut tahap berikutnya.

Proses pembimbing terus berlanjut selama Juli hingga Oktober 2023. Pembimbingan dilakukan oleh tiga mentor sukarelawan dari konsultan bisnis terkemuka seperti McKinsey & Company, Temasek International, Bain & Company, dan professional di bidang industri lainnya.

Selama fase 4 bulan itu, para mentor sukarelawan memainkan peran penting dalam membimbing peserta untuk menjalankan wirausaha sosialnya. Mentor juga membantu mempersiapkan tim-tim untuk acara yang disebut ‘Pitching for Change’ pada November 2023, yang merupakan acara final, sekaligus penutupan YSE Global 2023.

Setiap tim mempresentasikan rencana bisnis yang telah disempurnakan di hadapan panel juri untuk mendapat pendanaan.

Salah satu peserta YSE Global 2023 dari Rumah Briket asal Indonesia, Mahdiyyah Ardhina mengatakan, YSE Global memberi pelatihan intensif bagi tim karena masih baru dalam bidang usaha ini.

“Para mentor banyak membagi pengalaman, sekaligus masukan yang memberi perspektif baru pada rencana bisnis kami,” ucapnya.

Rumah Briket menciptakan solusi tanpa limbah yang memproses sampah organik dan non-organik dan mengubahnya menjadi briket arang dan paving block.

Dr Yoke Pean Thye, salah satu pendiri WISE–sebuah organisasi nirlaba yang bekerja untuk mewujudkan Asia Tenggara yang berkelanjutan dan berkeadilan juga ikut memberi bimbingan kepada Rumah Briket.

“Kehormatan bagi saya bisa mendukung tim Rumah Briket. Setelah mendapat manfaat dari lokakarya YSE Regional beberapa tahun lalu, saya diberi kesempatan membantu Rumah Briket dan menyempurnakan model bisnisnya,” kata Yoke.

Ia tersentuh melihat semangat anak muda dalam mengatasi krisis pengelolaan sampah di Indonesia. “Usaha sosial ini semoga bisa memberi manfaat masyarakat Indonesia dalam menangani masalah sampah,” ucapnya.

Yoke juga mendorong lebih banyak orang untuk mendaftar sebagai mentor di YSE Global. Karena bisa menjadi jalan bagi orang-orang yang ingin berbagi pengalaman dengan anak muda yang sedang mencari jati dirinya dan dampak sosialnya.

Wakil Ketua SIF dan Juri Utama YSE Global 2023, Lian Wee Cheow mengatakan, bimbingan merupakan komponen utama dari YSE Global. Para mentor YSE adalah pemimpin industri dengan pengalaman yang luas. Mereka mau meluangkan waktu untuk berbagi pengalaman kepada para calon pemimpin perubahan.

Ia menambahkan, YSE Global sejak 2010 telah membina jaringan yang terus berkembang hingga tercipta 1.400 pemuda dari 43 negara, yang mewakili 674 wirausaha sosial.

Dengan memberi bimbingan, lokakarya pengembangan kapasitas, dan kesempatan belajar di tingkat regional, YSE mendukung para wirausahawan sosial pemula untuk memulai perjalanan mereka.

Tim pemenang YSE Global 2023 untuk Pitching for Change ada 6 tim dari 15 tim yang terpilih. Mereka dipilih berdasarkan dampak dan skalabilitas ide bisnis mereka, serta tingkat komitmennya.

Setiap tim pemenang mendapat dana hingga 20.000 dolar Singapura untuk meluncurkan atau meningkatkan usaha sosial mereka.

Seorang mentor akan ditugaskan untuk membimbing peserta dalam menggunakan dana tersebut dan mendukung perkembangan mereka selama satu setengah tahun ke depan.

Sekretaris Senior Parlemen, Kementerian Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda, dan Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura, Eric Chua menjadi tamu kehormatan pada acara tersebut.

Dalam pidatonya, Eric memberi pujian atas tekad para tim yang telah mengatasi masalah-masalah sulit dengan kreativitas dan ketangguhan.

“Tim ini mengadvokasi tujuan-tujuan sosial yang mereka pedulikan. Lalu mempresentasikan berbagai ide yang menarik, mulai dari akses ke layanan kesehatan mental, praktik berkelanjutan, kesetaraan pendidikan, dan dukungan untuk komunitas yang rentan,” tuturnya.

Peserta YSE Global juga menyuarakan semangat untuk menciptakan perubahan yang berarti dalam masyarakat. “Saya tersentuh dengan semangat anak muda yang ingin melayani orang lain, serta dedikasi mereka dalam memberi solusi. Itu bukan hal mudah,” ucap Eric.

Salah satu pendiri HomePal dari Singapura, Lai Hoi Bing mengatakan, YSE Global memberi pengalaman positif dan bermanfaat yang berbeda dari yang lain.

“Klinik bisnis dan lokakarya pelatihan telah memberi keterampilan dan pengetahuan yang relevan kepada tim saya, seperti penggunaan model bisnis kanvas perusahaan sosial untuk menyempurnakan strategi masuk ke pasar dan penghitungan dampak sosialnya,” ujarnya.

HomePal adalah perusahaan sosial dari Singapura dan China yang mendukung para lansia melalui pengembangan sistem Internet of Things (IoT) dengan menggunakan solusi pemantauan dan keamanan rumah yang menjaga privasi.

Salah satu pendiri LeLao dari Laos, Manithip Vongphachanh terinspirasi oleh tim YSE Global lainnya. Program ini memperkenalkan saya pada jaringan global rekan-rekan yang berpikiran sama dalam melakukan pekerjaan luar biasa untuk membuat perbedaan positif bagi masyarakat.

Karyawan LeLao memproduksi produk fesyen yang terjangkau dan berkelanjutan yang didaur ulang dari limbah kain dan produknya dirancang untuk menampilkan warisan budaya Laos yang kaya.

Program YSE Global bertujuan untuk menginspirasi, membekali, dan memungkinkan kaum muda dari berbagai negara untuk meluncurkan atau meningkatkan usaha sosial mereka di Singapura dan sekitarnya. Program ini diceritakan di media sosial dengan tagar #sifyse. (Tri Wahyuni)

Related posts