Didukung Bekraf, IKJ Gelar Pameran Fashion dan Animasi 2019

0

JAKARTA (Suara Karya): Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) kembali mendukung Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menggelar dua kegiatan bertajuk Cikini Fashion Festival (Ciffest) dan Animasi Cikini (Animakini) 2019. Lewat kegiatan itu, diharapkan tumbuh industri kreatif mulai dari kampus.

“Fashion, kriya dan kuliner masuk dalam kelompok sub sektor unggulan ekonomi kreatif. Bahkan, pada 2017, industri fashion memberi kontribusi atas 17,6 persen pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB),” kata Kepala Subdirektorat Metedologi dan Analisis Riset, Bekraf, Dian Permanasari disela acara Ciffest dan Animakini 2019, di kampus IKJ Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Di bidang animasi, lanjut Dian, industri tersebut menunjukkan prospek yang makin cerah. Animasi karya anak bangsa telah menghasilkan devisa bagi negara. Pada 2017, kontribusi film, animasi dan video memberi kontribusi kepada PDB pada kelompok ekonomi kreatif sebesar Rp1,8 triliun atau 0,18 persen dari PDB.

“Kontribusi animasi atas PDB saat ini masih sangat kecil, dibanding sub sektor lain. Tapi jika bidang ini dikembangkan dengan baik, bukan mustahil industri animasi Indonesia memberi devisa yang besar kepada negara,” ujarnya.

Dian menjelaskan, pihaknya menjalin kerja sama dengan 6 perguruan tinggi dalam pengembangan industri kreatif. Enam perguruan tinggi itu adalah IKJ, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

“Setiap kampus memiliki keunggulan masing-masing. Universitas Indonesia untuk bidang arsitektur dan desain interior, ITB untuk seni rupa dan aplikasi, UGM pada pengembangan kuliner dan ISI Yogyakarta untuk musik dan kriya,” tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Seni Rupa (FSR) IKJ, Indah Tjahjawulan mengatakan, selain pameran, Ciffest juga menggelar seminar bertema Eksplorasi Kekayaan Nusantara. Narasumber dari praktisi dan pendukung di dunia fashion Tanah Air seperti Lenny Agustin dan Anne Avantie.

“Khusus untuk fashion, Ciffest adalah ajang pamer dari tugas akhir mahasiswa IKJ program studi fashion. Tak ada peserta dari luar kampus. Karya mereka terbilang unik karena benar-benar hasil eksplorasi kekayaan nusantara, baik pada model maupun bahannya,” kata Indah.

Untuk animasi, Indah menambahkan, ada 65 karya animasi buatan mahasiswa IKJ sebagai tugas dan kampus lain yang dipamerkan. Seminar menampilkan pembicara yaitu sutradara animasi Tempo Animation, Chandra Endroputro dan Chief Executive Officer (CEO) The Little Giantz Studio, Aditya Triantoro.

“Presentasi mereka tentang strategi pengembangan bisnis animasi Nussa,” kata Indah seraya menyebut narasumber lain yaitu ilustator Mohammad Taufiq, alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) IKJ.

Mohammad Taufiq, lanjut Indah, pada pertengahan 2019 lalu masuk dalam 5 terbaik katapel Bekraf, ajang inkubasi pengembangan bisnis intelektual property (IP) yang dipresentasikan. Ia mengambil tema strategi pengembangan IP si Gugug! dari komik menuju animasi.

Indah berharap penelitian dari pemakalah dalam Animakini 2019 bisa menjadi rujukan dalam riset dan pengembangan akademik untuk kebutuhan industri. Data yang terkumpul bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk kemajuan animasi di Indonesia.

“Sehingga, konsep pentahelix dalam ekonomi kreatif bisa dijalankan,” kata Indah menandaskan. (Tri Wahyuni)