JAKARTA (Suara Karya): Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberi apresiasi tinggi terhadap film Buya Hamka 3, usai menyaksikan ‘special screening’ film tersebut di bioskop XXI, Lotte Avenue Kuningan, Jakarta, Rabu (19/11/25) petang.
Buya Hamka 3 merupakan film biopik terbaru yang mengangkat perjalanan hidup salah satu ulama, sastrawan, dan pemikir paling berpengaruh di Indonesia, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau disingkat menjadi Hamka.
Hadir dalam kesempatan itu, produser film Buya Hamka 3 yaitu Federica; sutradara Fajar Bustomi; penulis naskah Cassandra Massardi dan Alim Sudio, penata musik Purwacaraka, dan lainnya.
Menurut Fadli, film Buya Hamka 3 berhasil menyuguhkan sisi-sisi penting kehidupan Buya Hamka secara artistik dan emosional. “Hampir semua garapan mencapai tingkat artistik yang tinggi,” ujarnya.
Ia menilai film tersebut bukan hanya menyentuh aspek sejarah, tetapi juga kuat dalam menampilkan ekspresi budaya, konflik, serta perjalanan pemikiran sang tokoh.
“Salah satu bagian yang paling membekas adalah kisah perjuangan Buya Hamka saat menunaikan ibadah haji puluhan tahun silam,” ujarnya.
Perjalanan panjang melewati gurun dan laut selama berbulan-bulan, menurut Fadli Zon, menjadi pengingat akan gigihnya perjuangan ulama di masa lalu. “Naik haji dulu itu seperti bertarung nyawa. Naik kapal laut, lalu lanjut berjalan di gurun,” tuturnya.
Fadli juga menyoroti ketekunan Buya Hamka dalam menimba ilmu ke banyak guru, hingga menjadikannya sebagai sosok yang dihormati lintas suku dan golongan.
Karya Buya Hamka begitu luas, mulai dari novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Ka’bah, hingga mahakarya Tafsir Al-Azhar yang ditulis saat berada di penjara pada 1960-an.
“Buya Hamka sosok yang lengkap, tak hanya ulama, ia juga penulis, wartawan, pendidik, dan sastrawan. Beliau juga orang yang sangat rendah hati, tidak pendendam, serta memiliki jiwa sosial yang tinggi,” tutur Fadli Zon.
Selain itu, Menbud menilai film Buya Hamka 3 kuat dalam menampilkan kekayaan budaya Nusantara. Mulai dari adat istiadat, arsitektur rumah, pakaian, hingga dinamika sosial yang menggambarkan akulturasi lintas suku dan bangsa.
“Pesan keberagaman dan toleransi dalam film ini tersampaikan dengan baik, termasuk hubungan Buya Hamka dengan tokoh pers keturunan Tionghoa di masa itu,” katanya.
Fadli menyatakan optimistis film ini akan mendapat sambutan besar dari masyarakat Indonesia, terutama para pengagum Buya Hamka. Ia bahkan mengaku ingin menontonnya kembali. “Kalau tayang di bioskop nanti, saya bakal nonton lagi. Insya Allah,” katanya.
Ditanya kapan film Buya Hamka 3 tayang di bioskop di Tanah Air, Produser Federica mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan akan melakukan pemutaran khusus bagi pelajar dan santri di seluruh Indonesia, sebelum film tersebut dirilis secara nasional.
“Waktu penayangan di bioskop masih dibahas. Kemungkinan pada akhir Januari 2026, jelang bulan Ramadan.
Menurut Fadli Zon, film Buya Hamka 3 pas sekali jika ditayangkan sebelum Ramadhan, sehingga generasi muda kita dapat mengenal lebih dekat sosok Buya Hamka sebagai teladan keilmuan, keteguhan, dan akhlak mulia.
“Ini film biopik yang menurut saya akan mendapat respons sangat besar dari masyarakat Indonesia,” pungkasnya.
Film Buya Hamka perdana ditayangkan pada 20 April 2023. Lalu Buya Hamka Vol 2 pada Desember 2023, dan kini Buya Hamka 3 rencananya ditayangkan pada awal Januari 2026.
Film ini yang dibintangi Vino G Bastian, Laudya Cynthia Bella, Donny Damara, Desy Ratnasari, dan Ben Kasyafani itu menggambarkan fase yang berbeda-beda di ketiga filmnya.
Film Buya Hamka Volume 1 menceritakan awal kepemimpinan Buya Hamka sebagai pengurus Muhammadiyah di Makassar dan kepindahannya ke Medan untuk memimpin majalah Pedoman Masyarakat.
Sedangkan Buya Hamka Volume 2 menggambarkan perjuangan Buya Hamka pasca-kemerdekaan Indonesia, termasuk perannya dalam menyatukan masyarakat dan menangkis adu domba.
Selain mendokumentasikan penangkapannya atas tuduhan pemberontakan terhadap Soekarno, dan bagaimana ia menyelesaikan karya tafsir Al-Ahzar saat mendekam di penjara.
Menampilkan juga kisah romantis antara Buya Hamka dan istrinya, Siti Raham, serta peran sang istri sebagai pendukung setia.
Film Buaya Hamka Volume 3, fokus
pada masa kecil Buya Hamka di Maninjau, Sumatera Barat, dan bagaimana ia tumbuh besar. Termasuk suka duka saat ia pergi ke Tanah Suci. (Tri Wahyuni)

