Suara Karya

Jawab Tantangan Literasi di Era Digital, SiDU Perkuat Gerakan Ayo Menulis

JAKARTA (Suara Karya): Kemampuan membaca saja belum cukup untuk membangun literasi pelajar di era digital. Anak juga perlu dibiasakan mengolah informasi, menyusun pemikiran, dan menuangkannya dalam tulisan.

Apalagi hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 menunjukkan, skor membaca siswa Indonesia berada pada 365 poin, masih di bawah rata-rata OECD sebesar 461 poin.

Meski angkanya meningkat dibanding PISA 2022, perubahan tersebut belum signifikan secara statistik.

Karena itu, SiDU memperkuat Gerakan ‘Ayo Menulis’ sebagai bagian dari upaya mendorong budaya literasi yang lebih kuat di kalangan pelajar Indonesia.

Penguatan gerakan tersebut dilakukan melalui gelaran CIA Festival 2026 yang berlangsung 2-4 Oktober 2026 di Jakarta.

Dalam kegiatan itu, SiDU bersama majalah Cahaya Inspirasi Anak (CIA) menghadirkan berbagai kegiatan literasi, mulai dari Workshop Menulis Opini bersama Clara Ng, sosialisasi Modul Menulis Opini untuk guru, hingga penyerahan donasi buku tulis untuk daerah tertinggal.

Head of Marketing Domestic Stationery APP Group, Arif Darmawan menjelaskan, menulis bukan sekadar kegiatan di ruang kelas, tetapi menjadi sarana bagi anak untuk mengolah informasi, menyusun pemikiran, dan menyampaikan gagasan secara terstruktur.

“Lewat menulis, anak belajar mengolah informasi, menyusun pemikiran, sekaligus menyampaikan gagasan dengan lebih terstruktur dan percaya diri,” katanya.

Penguatan budaya menulis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya meningkatkan kemampuan literasi dan kualitas pembelajaran anak Indonesia.

“Lewat Gerakan Ayo Menulis, SiDU ingin ikut mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas literasi dan pendidikan generasi muda Indonesia,” ucapnya.

Karena tantangan itu tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, SiDU terus berkolaborasi dengan pemerintah, sekolah, guru, orang tua, komunitas, dan sektor swasta, sekaligus mengembangkan pendekatan berbasis riset agar inisiatif yang dijalankan memberi manfaat yang relevan bagi proses pembelajaran.

Penguatan Gerakan Ayo Menulis juga didukung hasil riset kolaboratif Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya, SiDU, dan CIA tentang pengaruh aktivitas menulis di atas kertas terhadap kemampuan literasi siswa sekolah dasar.

Riset yang dilakukan pada 2024 itu melibatkan 2.293 siswa kelas 4 dan 5 dari 106 sekolah dasar di Jakarta dan sekitarnya. Hasilnya, 81 persen peserta mengalami peningkatan kemampuan literasi setelah mengikuti aktivitas menulis menggunakan modul ‘Ayo Menulis’ bersama SiDU.

Peningkatan kemampuan literasi terutama terlihat pada aspek pemahaman bacaan, struktur tulisan, dan kemampuan berpikir kritis.

Temuan tersebut menjadi salah satu pijakan bagi SiDU untuk mengembangkan pendekatan literasi yang menghubungkan kebiasaan menulis dengan tangan dengan metode pembelajaran di sekolah.

Gerakan Ayo Menulis telah dijalankan SiDU sejak 2017. Hingga 2025, program tersebut telah menjangkau lebih dari 1.600 sekolah serta melibatkan lebih dari 127.000 siswa, 3.300 guru, dan 12.200 orang tua.

Program tersebut dikembangkan melalui berbagai aktivitas literasi di sekolah, pengembangan modul pembelajaran dan Akademi Ayo Menulis bagi guru, riset pendidikan, serta kegiatan dan kompetisi yang memberi ruang bagi siswa untuk menuangkan ide melalui tulisan.

Selain memperkuat kemampuan literasi, SiDU juga memperluas akses terhadap sarana belajar bagi pelajar di daerah yang membutuhkan dukungan.

Dalam CIA Festival 2026, SiDU melakukan simbolisasi donasi sebanyak 20.000 buku tulis kepada perwakilan Badan Penghubung Pemerintah Daerah tertinggal.

Sebelumnya, SiDU telah mendistribusikan 80.000 buku tulis untuk pelajar di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Provinsi Sumatera Utara (Sumut). Dukungan itu diharapkan membuka lebih banyak kesempatan bagi anak untuk belajar, berlatih menulis, dan mengekspresikan gagasan sejak dini.

Pendiri Majalah CIA, Stefanie Augustin, mengatakan, keberlanjutan pendidikan anak membutuhkan dukungan yang tidak berhenti ketika situasi darurat berakhir.

“Ketika anak terdampak bencana kehilangan akses belajar, kita harus pastikan mereka tetap memiliki sarana untuk membaca dan menulis sebagai salah satu bentuk nyata dari kepedulian kita terhadap keberlanjutan pendidikan mereka,” ujar Stefanie.

Upaya memperkuat budaya menulis juga akan dilanjutkan melalui Lomba Menulis Opini SiDU 2026/2027 yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 hingga Januari 2027.

Kompetisi tersebut diharapkan menjadi ruang bagi lebih banyak pelajar untuk mengembangkan kemampuan mengolah informasi, membangun argumentasi, dan menyampaikan gagasan melalui tulisan.

Melalui penguatan kapasitas guru, pendekatan berbasis riset, kompetisi, aktivitas menulis, serta dukungan sarana belajar, SiDU berkomitmen memperluas Gerakan Ayo Menulis sekaligus membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat literasi generasi muda Indonesia. (Tri Wahyuni)

Related posts