Suara Karya

Percepat Hilirisasi Hasil Riset, AII Kawal 16 Invensi Grant Riset Sawit BPDPKS 2021-2023

JAKARTA (Suara Karya): Asosiasi Inventor Indonesia (AII) kembali dipercaya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk melakukan valuasi dan hilirisasi hasil riset program Grant Riset Sawit (GRS) 2021-2023.

Dari 24 invensi yang divaluasi tahun ini, ada 16 invensi yang dinyatakan lolos, karena memiliki kesiapan teknologi dan bernilai ekonomi tinggi.

“Hasil invensi yang lolos ini, akan kami kawal hingga mendapatkan industri yang potensial,” kata Ketua Umum AII, Prof Ir Didiek Hadjar Goenadi kepada media di Jakarta, Selasa (2/7/24).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, Zaid Burhan Ibrahim, Direktur Kemitraan BPDPKS, Kabul Wijayanto dan Sekretaris Jenderal AII, Prof Jonbi.

Prof Didiek menjelaskan, 16 invensi yang lolos seleksi akan dipresentasikan ke industri pada Agustus mendatang. Lewat kegiatan itu, diharapkan terjadi kesepakatan untuk hilirisasi hasil invensi.

“Proses hilirisasi tak semudah membalikkan tangan. Prosesnya panjang. Butuh komitmen bersama untuk pengembangan produk hingga siap dijual,” ujarnya.

Meski potensi ekonomi terlihat, lanjut Prof Didiek, industri tidak otomatis tertarik hingga diperoleh kepastian produk tersebut bernilai jual tinggi. “Itulah salah satu alasan kenapa hilirisasi hasil riset sering tidak berjalan mulus,” ungkapnya.

Prof Didiek mengungkapkan pengalaman AII dalam melakukan valuasi hasil invensi pada GRS periode I (2015-2019) dan periode II (2019-2021). Dari total 14 invensi yang layak untuk hilirisasi, baru 9 invensi yang dilirik industri.

“Sisa invensi lainnya masih terus kita promosikan ke kalangan industri,” tuturnya.

Pernyataan senada dikemukakan Direktur Penyaluran Dana BPDPKS, Zaid Burhan Ibrahim. Pihaknya mendukung dilakukan riset, karena hal itu menjadi pondasi industri kelapa sawit di masa depan.

“Kelapa sawit sebagai salah satu komoditas perkebunan strategis nasional butuh penelitian dan pengembangan riset, baik yang berdampak langsung untuk industri kelapa sawit nasional yang berkelanjutan, maupun sebagai bahan kebijakan melawan kampanye hitam terhadap sawit,” ujarnya.

Hal itu menjadi penting, lanjut Zaid, karena sektor industri sawit memberi sumbangan yang cukup besar kepada perekonomian Indonesia. Ekspor CPO dan produk-produk turunannya mencapai 21,4 miliar dollar atau rata-rata 14,19 persen per tahun dari total ekspor non migas.

Sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia menargetkan produksi lebih dari 50 juta ton minyak sawit pada 2025. Hal itu memberi lebih banyak pasokan untuk industri makanan, termasuk minyak goreng dan makanan berbasis minyak sawit, selain kebutuhan biodiesel untuk domestik dan ekspor.

Upaya penelitian, lanjut Zaid, tak hanya melibatkan AII tapi juga perguruan lain di Indonesia. Termasuk mahasiswa lebih beragam kompetisi penelitian soal kelapa sawit

“Sejak 2015, BPDPKS telah mendanai 346 kontrak perjanjian kerja sama dengan 88 lembaga litbang yang melibatkan 1212 peneliti dan 383 mahasiswa,” tuturnya.

Publikasi ilmiah dari hasil riset telah dilakukan, baik melalui jurnal nasional maupun internasional, penulisan buku dan registrasi paten untuk melindungi HaKI. Publikasi ilmiah berjumlah 243 jurnal, ada 50 paten serta 8 buku yang dicetak.

“Semua hasil riset itu kami integrasikan ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dapat diakses masyarakat umum. Saya harap jumlah publikasi ilmiah akan terus meningkat sebagai wujud dari upaya diseminasi hasil litbang kelapa sawit,” ujarnya.

Direktur Kemitraan BPDPKS, Kabul Wijayanto menyebut, dana riset yang dialokasikan BPDPKS terus ditingkatkan setiap tahunnya. Pada 2022 dialokasikan sebesar Rp118 miliar, bertambah menjadi Rp122 miliar pada 2023 dan Rp137 miliar pada 2024.

“Tahun depan, rencananya dana riset ditingkatkan hingga Rp167 miliar. Peningkatan dana tersebut menunjukkan komitmen BPDPKS untuk pengembangan industri sawit di Tanah Air,” ujarnya.

Hasil penelitian itu, lanjut Kabul, sekaligus digunakan sebagai data untuk melawan kampanye hitam terkait kelapa sawit, yang dilancarkan para pihak, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Bahkan kampanye hitam tentang kelapa sawit telah masuk ke pikiran anak muda di Indonesia. Ini jadi pekerjaan rumah kita semua,” ujarnya.

Untuk itu, Kabul mengajak para pihak untuk lebih gencar lagi dalam menyosialisasikan hasil riset sawit yang memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia. Industri yang memberi kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Mari kita diskusikan hasil riset ini ke ruang-ruang akademis. Sehingga tidak terjadi salah faham di kalangan muda kita. Jika ada yang tidak tepat, mari kita cari solusinya, demi hidup yang lebih baik,” ucap Kabul menandaskan. (Tri Wahyuni)

Related posts