Suara Karya

Diikuti 8,7 Siswa, Hasil TKA SD-SMP 2026 Ungkap ‘PR’ Besar Pemerintah di bidang Numerasi

JAKARTA (Suara Karya): Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD-SMP 2026 diumumkan hari ini. Tes yang diikuti sekitar 8,7 juta siswa itu mengungkap pekerjaan rumah (PR) besar pemerintah di bidang numerasi.

Hasilnya menunjukkan capaian matematika siswa masih lebih rendah dibanding literasi Bahasa Indonesia. Nilai rerata matematika sekitar 43, sedangkan Bahasa Indonesia di kisaran 60.

“Perlu penguatan kemampuan berpikir logis, penalaran matematis, dan pemecahan masalah dalam proses pembelajaran sehari-hari,” kata Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM), Kemendikdasmen, Prof Toni Toharudin dalam Taklimat Media, di Jakarta, Senin (26/5/26).

Hadir dalam kesempatan yang sama, Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen, Yudhistira Nugraha.

Prof Toni menjelaskan, pelaksanaan TKA SD-SMP 2026 diikuti lebih dari 97 persen siswa. Partisipasi yang tinggi itu menunjukkan tumbuhnya kesadaran untuk membangun budaya evaluasi pendidikan yang objektif dan berorientasi pada peningkatan mutu.

“Ini menunjukkan semangat bersama untuk membangun budaya evaluasi pendidikan yang lebih objektif, terukur, dan berorientasi pada perbaikan mutu pendidikan,” ujarnya.

Ia menegaskan TKA bukan alat untuk memberi label kepada daerah, sekolah, maupun siswa, melainkan alat untuk memotret capaian akademik secara komprehensif.

“Asesmen ini dirancang sebagai instrumen pemetaan capaian akademik nasional, agar pemerintah memiliki dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih presisi dan berbasis bukti,” tegasnya.

Toni menyebut pelaksanaan TKA tahun itu juga menghasilkan ‘big data’ pendidikan berskala nasional yang sangat strategis. Data tersebut memetakan capaian akademik hingga tingkat provinsi, kabupaten/kota, satuan pendidikan, bahkan kategori kompetensi siswa.

Melalui data itu, pemerintah dapat mengidentifikasi wilayah yang membutuhkan intervensi pembelajaran, distribusi sumber daya pendidikan, hingga penguatan mutu secara lebih tepat sasaran.

Hal senada disampaikan Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kemendikdasmen, Rahmawati. Ia meminta agar hasil TKA tidak dipahami sekadar angka atau dijadikan sebagai dasar pemeringkatan sekolah maupun daerah.

Karena tujuan utama TKA adalah membantu guru, sekolah, dan orang tua untuk memahami kemampuan riil siswa, agar strategi pembelajaran bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak.

“Jangan kreatif meranking-ranking ya. Tujuan kita bukan melabeli atau menentukan siapa yang terbaik, tetapi untuk refleksi dan perbaikan pembelajaran,” ucapnya.

Rahmawati menjelaskan, hasil TKA kini tidak hanya menampilkan nilai, tetapi juga kategori capaian siswa, yakni kurang, memadai, baik, hingga istimewa bagi siswa dengan nilai di atas 95.

Kategori tersebut dilengkapi deskripsi kemampuan, agar guru dan orangtua dapat mengetahui kompetensi apa yang sudah dikuasai siswa dan bagian mana yang masih perlu diperkuat.

“Kalau anak mendapat kategori memadai, orang tua bisa tahu anaknya sudah mampu dalam hal apa dan apa yang belum mampu dilakukan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, mata pelajaran Bahasa Indonesia, siswa kategori memadai umumnya sudah memahami isi bacaan, tetapi masih kesulitan mengaitkan isi teks dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, pola belajar dan pendampingan harus disesuaikan.

“Jadi hasil TKA itu seharusnya berujung pada perubahan strategi belajar, bukan berhenti di nilai,” tegasnya.

Rahmawati mengungkapkan, pelaksanaan TKA tahun ini diikuti lebih dari 8,7 juta siswa dengan tingkat kehadiran mencapai 98,12 persen pada jadwal utama. Bahkan tidak ada satu pun provinsi dengan partisipasi di bawah 95 persen.

Tingginya partisipasi ikut TKA, karena Kemendikdasmen membuka jadwal tes susulan bagi siswa yang sakit, mengalami kendala teknis, maupun gangguan jaringan. Sebanyak 463.533 siswa tercatat mengikuti sesi susulan tersebut.

Dalam pengolahan hasil, Rahmawati menjelaskan nilai TKA diperoleh dari persentase jawaban benar yang kemudian ditransformasikan ke skala 0–100. Sebanyak 70 persen soal berasal dari pusat, sedangkan 30 persen berasal dari daerah masing-masing.

Sebelum penilaian dilakukan, seluruh soal lebih dahulu melewati proses verifikasi dan validasi statistik untuk memastikan tingkat kesulitan antar paket soal tetap adil bagi seluruh peserta.

“Kami melakukan pengecekan statistik butir soal dan tingkat kesukaran paket untuk memastikan tidak ada murid yang dirugikan,” katanya.

Ia juga meminta publik berhati-hati membandingkan hasil antarwilayah karena soal daerah belum sepenuhnya disetarakan secara nasional.

Daei hasil TKA tahun ini, Rahmawati mengakui capaian Bahasa Indonesia masih lebih baik dibanding matematika. Pada jenjang SMP/MTs, siswa yang mencapai kategori baik dalam matematika masih berada di bawah 10 persen.

“Kondisi itu harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan pendidikan, terutama dalam memperkuat kemampuan berpikir logis, numerasi, dan pemecahan masalah siswa,” tuturnya.

Menurutnya, hasil TKA bisa menjadi peta awal agar pembelajaran bisa lebih terdiferensiasi sesuai kebutuhan murid di setiap daerah maupun sekolah.

Hasil TKA juga akan dimanfaatkan dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur prestasi melalui integrasi host-to-host berbasis API, sehingga sekolah tidak perlu lagi meminta siswa mengunggah nilai secara manual.

Dinas pendidikan dan kantor wilayah terlebih dahulu memperoleh akses daftar kolektif hasil TKA, sebelum nantinya satuan pendidikan melakukan verifikasi data peserta dan mencetak Sertifikat Hasil TKA (SHTKA) untuk dibagikan kepada murid. (Tri Wahyuni)

Related posts