Suara Karya

IP Trisakti Perkuat Sinergi Pendidikan Vokasi, Teken Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Dua LKP

JAKARTA (Suara Karya): Institut Pariwisata (IP) Trisakti menegaskan komitmennya dalam memperkuat sinergi antara pendidikan tinggi dan pendidikan vokasi melalui penandatanganan PKS dengan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Surya Cipta Jakarta dan LKP Bina Mutu Bangsa Depok.

Penandatanganan dilakukan dalam rangkaian kegiatan IP Trisakti Tourism Expo ke-4 di Kampus IP Trisakti, di Tanah Kusir, Jakarta, Sabtu (13/12/25).

Wakil Rektor III Bidang Jasa, Kerja Sama, Alumni dan Job Arrangement System, IP Trisakti, Novita Widyastuti menjelaskan, kerja sama tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan mutu dan mempererat kemitraan antara perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan non-akademik di bidang pariwisata.

“LKP ini menyelenggarakan kursus dan pelatihan seperti perhotelan, tata boga, dan bidang pariwisata lainnya. Melalui kerja sama ini, kurikulum di LKP akan diperkuat dengan pendekatan pendidikan tinggi,” ujar Novita.

Kerja sama (MoU) yang sebelumnya difasilitasi oleh Direktorat Kursus dan Pelatihan, Ditjen Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) ini direncanakan berlangsung selama 3 tahun.

Kolaborasi difokuslan pada penguatan pembelajaran, peningkatan kompetensi, serta pengembangan kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri pariwisata.

Dalam implementasinya, dosen-dosen IP Trisakti akan terlibat langsung dalam proses pengajaran di LKP, sekaligus berkontribusi sebagai penguji pada tes akhir peserta pelatihan.

Melalui kerja sama ini, IP Trisakti berharap lulusan LKP memiliki kesiapan yang lebih baik dan peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Novita menambahkan, kerja sama dengan LKP Surya Cipta dan Bina Mutu Bangsa merupakan yang pertama dilakukan. Meski demikian, IP Trisakti telah menjalin kolaborasi dengan sejumlah LKP lain, seperti Metro Hotel School.

“Kerja sama semacam ini bukan hal baru bagi IP Trisakti. Sebelumnya kami juga mendapat amanah untuk bekerja sama dengan Metro Hotel School,” ujarnya.

Sementara itu, pelaksanaan IP Trisakti Tourism Expo ke-4 yang memasuki hari kedua berlangsung semakin meriah.

Suasana semakin semarak dengan digelarnya sejumlah lomba, seperti lomba memasak dan mencampur minuman (mixologi) berlangsung di kampus IP Trisakti. Sedangkan lomba tour guide digelar di wilayah Pantai Indah Kapuk (PIK).

Kehadiran alumni dan antusiasme peserta lomba menjadikan IP Trisakti Tourism Expo tak hanya sebagai ajang pameran pendidikan, tetapi juga ruang temu lintas generasi yang memperkuat ekosistem pendidikan vokasi dan pariwisata.

Selain itu, digelar pula workshop di auditorium kampus IP Trisakti yang menghadirkan konten kreator kuliner, Magdalena Fridawati. Acara berlangsung seru, karena di selingi lomba-lomba yang diakhiri dengan kompetisi mengulek sambal.

Magdalena dalam pemaparannya mengungkapkan, kini tantangan terbesar konten kreator bukan lagi sekadar tampil kreatif, melainkan bagaimana membuat pesan tepat sasaran, melekat di ingatan, dan mampu menggerakkan audiens.

Ia mengajak peserta menyadari realitas konsumsi media sosial yang kian masif, namun berbanding terbalik dengan kemampuan fokus manusia digital.

“Rata-rata screen time orang, atau istilah anak sekarang main medsos itu 3-5 jam, bahkan ada yang 11 jam per hari. Bayangkan, berapa banyak konten yang masuk setiap hari. Itu membuat tugas konten kreator jadi jauh lebih sulit,” ujarnya.

Derasnya arus informasi membuat audiens sangat selektif. Konten yang tidak mampu menarik perhatian dalam hitungan detik akan dengan mudah terlewat.

Berdasarkan berbagai riset yang ia pelajari, perhatian manusia digital kini bahkan disebut lebih pendek dibandingkan ikan mas.

“Belum sampai 10–12 detik, orang bisa langsung scroll atau menutup video. Mau tidak mau, kita harus menyesuaikan diri dengan realitas ini,” katanya.

Magdalena menekankan, saat ini kreativitas saja tidak lagi cukup. Konten harus dibangun di atas otoritas, yakni kapasitas, pengalaman, dan landasan data yang kuat.

Di era kecerdasan buatan (AI) yang mampu menyajikan data dan jurnal dalam hitungan detik, manusia justru dituntut menghadirkan nilai pembeda.

“Apa yang membedakan kita dengan AI adalah sisi manusiawinya, pengalaman nyata, kejujuran, konsistensi, dan cerita kehidupan yang relevan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya personal branding yang autentik, yang dibangun secara konsisten dari waktu ke waktu. Karena kepercayaan audiens tidak lahir dari konten viral sesaat, tetapi perjalanan panjang yang jujur dan berkelanjutan.

Dalam sesi tersebut, Magdalena membagikan teknik storytelling yang menurutnya masih relevan dan efektif, yakni tiga elemen utama: attention, conflict, dan resolution.

“Di 5 detik pertama, konten harus bisa menangkap perhatian. Lalu ada konflik, bukan selalu pertengkaran, tapi isu atau kegelisahan yang dirasakan. Terakhir, harus ada resolusi atau ajakan. Tanpa resolusi, konten hanya akan jadi perdebatan di kolom komentar,” paparnya.

Ia mengingatkan, konflik tanpa solusi hanya akan memicu kegaduhan, sementara solusi tanpa konflik justru terasa dipaksakan dan sulit diterima audiens.

Menutup paparannya, Magdalena berharap peserta yang hadir tidak takut untuk mulai berkarya, sekaligus berani melakukan riset, membangun otoritas, dan tetap jujur dalam menyampaikan cerita.

“Konten yang kuat itu bukan yang paling ribut, tapi yang paling relevan dan terasa manusiawi,” pungkasnya.
(Tri Wahyuni)

Related posts