JAKARTA (Suara Karya): Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Zubairi Djoerban meluncurkan buku, hasil refleksinya selama tiga tahun pandemi covid-19.
Peluncuran buku tersebut digelar Gedung Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta, Rabu (12/7/23)
Buku berjudul ‘Pandemi, Pembelajaran dan Kebijakan’ itu diharapkan bisa jadi pegangan para dokter, tenaga medis hingga pengambil keputusan, termasuk pemimpin Indonesia jika terjadi kondisi serupa di masa depan.
“Belajar dari covid-19, kita jadi tahu perjalanan virus itu seperti apa. Pandemi selama tiga tahun ini bisa jadi pembelajaran untuk kita semua, terutama tenaga kesehatan,” ucap pria yang terlihat sehat di usia 76 tahun itu.
Prof Zubairi menyerahkan buku secara simbolik kepada Ketua Umum PB IDI, Adib Khumaidi dan Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK), Ika Prasetya.
Ketua PB IDI, Adib Khumaidi memberi apresiasi atas terbitnya buku setebal 128 halaman tersebut. Buku tersebut bisa menjadi pegangan bagi para tenaga kesehatan di Tanah Air untuk masa depan.
“Tak banyak orang seperti Prof Zubairi, yang mau meluangkan waktunya untuk mencatat semua kejadian dan kebijakan pemerintah yang menyertainya. Catatan itu akan berguna di masa depan,” ucapnya.
Sebagai Ketua Satgas Covid-19, Prof Zubairi menguasai data terkait penanganan covid-19. Tak heran jika bukunya sangat detail, sehingga setiap langkahnya bisa jadi pembelajaran tentang pandemi di masa depan.
Seperti dikatakan dalam bukunya, pandemi semacam covid-19 akan terjadi di masa depan hasil interaksi manusia yang semakin terhubung dan perambahan alam. Peluang itu diperbesar dengan terjadinya perubahan iklim yang bisa dirasakan saat ini.
“Semua itu mendorong munculnya berbagai penyakit dan pandemi. Agar pandemi tak berkepanjangan, pemerintah bisa belajar dari kejadian selama pandemi covid-19,” kata Prof Zubairi.
Ia menyebut beberapa hal penting dalam upaya pengendalian pandemi, yaitu koordinasi lintas sektor dan masyarakat, testing-contact tracing-tracking, penguatan layanan kesehatan, logistik, SDM serta informasi-komunikasi.
Prof Zubairi menilai Indonesia berhasil mengendalikan pandemi. Ia mengutip data per 26 Januari 2023, yang mana dalam seminggu terakhir kasus hanya ada 47 orang meninggal di Indonesia.
Bandingkan dengan data di periode yang sama di Jepang mencapai 2.609 orang, Amerika sebanyak 1.584 orang dan Brazil 962 orang. Di Tiongkok, pada kurun 13-19 Januari 2023, menurut catatan Kompas, orang yang meninggal karena covid mencapai 13 ribu orang.
Pada 27 Desember 2022, lanjut Prof Zubairi, kasus covid-19 harian di Indonesia mencapai 1,7 kasus per 1 juta penduduk. Tak hanya korban meninggal jauh lebih sedikit, positive rate mingguan tercatat 3,35 persen, tingkat perawatan di rumah sakit 4,79 persen dan angka kematian 2,39 persen.
“Semua angka itu dibawah standar yang ditetapkan WHO,” ucapnya menegaskan. (Tri Wahyuni)
