JAKARTA (Suara Karya): Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) melepas 79 talenta muda Indonesia untuk berlaga di 14 kompetisi sains dunia sepanjang 2026. Mereka diharapkan mampu mengibarkan Merah Putih di panggung global.
Dalam acara pelepasan di Jakarta, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan, para peserta tak sekadar mewakili diri sendiri, tetapi membawa nama keluarga, sekolah, bangsa, dan negara.
“You are not yourself. You are the representation of Indonesia. Orang melihat kalian sebagai wajah Indonesia di kancah dunia,” kata Mu’ti di hadapan sejumlah delegasi yang hadir dalam acara pelepasan, di Gedung Kemdikdasmen, Senayan Jakarta, pada Selasa (14/7/26).
Hadir dalam acara yang sama, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemdikdasmen, Suharti; Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Nunuk Suryani; Kepala Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Maria Veronica Irene Herdjiono; dan segenap jajaran pejabat di lingkungan Kemdikdasmen.
Sekjen Kemdikdasmen Suharti melaporkan, kompetisi yang akan diikuti siswa dalam waktu dekat, yaitu International Olympiad in Informatics (IOI) di Tashkent, Uzbekistan; International Geography Olympiad (iGeo) di Istanbul, Turki; dan International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) di Kazakhstan.
Selain itu ada kompetisi International Earth Science Olympiad (IESO) di Turin, Italia; International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) di Mumbai, India; serta Battle of the Chefs di Penang, Malaysia.
Menurut Suharti, siswa Indonesia memiliki rekam jejak yang membanggakan di berbagai kompetisi tersebut. Pada IOI 2025 di Bolivia, 4 wakil Indonesia berhasil membawa pulang satu medali perak dan tiga medali perunggu di tengah persaingan lebih dari 320 peserta dari 30 negara.
“Tahun ini, pemerintah menargetkan raihan yang lebih tinggi, yaitu medali emas,” ujarnya.
Prestasi gemilang juga ditorehkan pada Olimpiade Geografi Internasional. Indonesia bahkan sempat menjadi juara umum pada 2024 dengan torehan 3 medali emas. Sementara pada 2025 di Bangkok, delegasi Merah Putih meraih 2 medali perak dan 2 medali perunggu.
Di bidang kecerdasan artifisial, Indonesia mencatat debut impresif. Pada International Olympiad in Artificial Intelligence 2025 di Beijing, tim Indonesia langsung meraih tiga medali perak dan satu perunggu.
“Ini menjadi bukti bahwa Indonesia sudah mulai diperhitungkan dalam kompetisi kecerdasan artifisial dunia,” ucap Suharti.
Prestasi serupa juga dicatat pada International Earth Science Olympiad. Tahun lalu, 4 siswa Indonesia membawa pulang total 11 medali, terdiri atas satu emas, empat perak, dan enam perunggu. Bahkan, satu peserta mampu meraih lebih dari satu medali.
Sementara pada Olimpiade Astronomi dan Astrofisika, Indonesia membawa pulang satu medali emas, satu perak, dan tiga perunggu dari sekitar 300 peserta yang berasal dari 64 negara.
Ajang Battle of the Chefs di Malaysia menjadi sorotan tersendiri karena melibatkan siswa berkebutuhan khusus. Meski bersaing dengan peserta profesional dan mahasiswa dari berbagai negara, delegasi Indonesia berhasil meraih empat medali perunggu dan dua penghargaan diploma.
“Meski anak-anak berkebutuhan khusus, prestasi mereka tidak kalah hebat dibanding peserta lainnya,” kata Suharti.
Secara keseluruhan, pada 2025 Indonesia mengoleksi tiga medali emas, dua medali perak, 32 medali perunggu, serta enam penghargaan kehormatan dari berbagai ajang internasional.
Di awal tahun ini, kontingen Indonesia telah membuka catatan prestasi lewat Olimpiade Fisika Internasional dengan raihan 1 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.
Selain 6 ajang yang baru dilepas, delegasi Indonesia saat ini masih bertanding pada Olimpiade Matematika, Biologi, Kimia, Ekonomi, dan debat internasional.
Suharti mengungkapkan, tantangan kompetisi global semakin berat. Menurutnya, setidaknya ada 4 catatan penting dalam pengembangan talenta nasional.
Pertama, standar prestasi Indonesia terus meningkat sehingga ekspektasi publik terhadap raihan medali semakin tinggi.
Kedua, persaingan internasional semakin ketat, terutama di bidang kecerdasan artifisial yang kini menjadi fokus investasi banyak negara.
Ketiga, format perlombaan tidak lagi sekadar mengandalkan hafalan. Kompetisi modern menuntut kemampuan analisis data, kerja lapangan, penyelesaian proyek tim, hingga kolaborasi lintas negara.
“Anak-anak tak hanya dituntut pintar secara akademik, tetapi juga mampu bekerja sama dengan peserta dari berbagai negara dan budaya,” ujar Suharti.
Karena itu, para peserta menjalani proses seleksi berlapis dan pembinaan intensif yang difasilitasi Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), mulai dari pendalaman materi, simulasi kompetisi, praktik lapangan, hingga penguatan mental.
Di akhir acara, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menggelar dialog dengan 6 siswa yang akan berangkat. Hadir 3 secara luring, yaitu Muhammad Bagir dari SMA Negeri 8 Jakarta ke ajang IOAA; Luminaire Tribuana Celmira dari SMAN 2 Tangerang Selatan ke ajang IGeo; Keylla Al Mayra dari SLBN 1 Bantul untuk ajang Battle of The Chefs di Penang.
Siswa yang hadir secara daring yaitu Franklin Filbert Irwan dari SMAS Darma Yudha, Riau untuk ajang IOI; Matthew Utama Pramana dari SMA Kolese Loyola Semarang untuk ajang IOAI; dan Louis Victor Iswara Nimpuna dari SMAS Kristen Immanuel Pontiana ke ajang IESO.
Salah satu delegasi, Muhammad Bagir dari SMA Negeri 8 Jakarta, mengaku dapat banyak pengalaman baru selama masa pembinaan.
“Kami dapat pelatihan tahap satu dan tahap dua dengan tutor dari dosen astronomi ITB dan peneliti BRIN. Kami juga berlatih mandiri dan mengerjakan ratusan soal setiap pekan,” katanya.
Di hadapan para siswa, Abdul Mu’ti juga menyoroti minimnya perhatian publik terhadap prestasi akademik dibanding olahraga.
“Saa5 atlet juara Olimpiade kembali ke Tanah Air, glorifikasi mereka luar biasa. Tetapi kalian yang berjuang di bidang sains sering tidak mendapat sorotan yang sama. Ini tidak boleh terus terjadi,” tegasnya.
Mu’ti memastikan pemerintah berkomitmen memperkuat pengembangan bakat dan minat siswa, tak hanya pada bidang olahraga, tetapi juga sains, teknologi, seni, dan inovasi.
“Indonesia Emas 2045 bisa terwujud lebih cepat jika generasi seperti kalian terus berkembang. Bahkan, jangan-jangan Indonesia sudah mencapai generasi emas pada 2035,” kata Mu’ti menandaskan. (Tri Wahyuni)
