BALIKPAPAN (Suara Karya): Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menilai perlunya siswa dilibatkan dalam proses pembagian ‘ompreng’ makan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selain membantu meringankan beban guru, keterlibatan siswa dapat menjadi sarana pembelajaran karakter, terutama dalam membangun kedisiplinan dan tanggung jawab.
“Tidak ada ‘boss’ dalam program ini, sehingga tidak perlu ada pihak yang dilayani atau melayani. Cukup taruh ompreng makan di depan kelas, biarkan siswa mengambil jatahnya sendiri-sendiri,” kata Abdul Mu’ti di SMP Negeri 14 Balikpapan, Kalimantan Timur, saat melihat dari dekat pelaksanaan MBG di sekolah tersebut, pada Jumat (5/6/26).
Hadir pula dalam kesempatan itu, Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud; Wali Kota Balikpapan, Rahmad Mas’ud; dan Wakil Ketua Komisi X, DPR RI, Hetifah Sjaifudian.
Setelah proses makan selesai, lanjut Abdul Mu’ti, siswa diminta mengembalikan tempat makannya ke tempat semula. Menyusunnya dengan rapi, tanpa sisa makanan. “Cara ini mengajarkan siswa untuk tanggungjawab, tertib dan saling bekerja sama,” tuturnya.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menilai pelaksanaan MBG di Balikpapan, secara umum sudah berjalan dengan baik. Menu yang disajikan sesuai ketentuan dan mendapat respons positif dari para siswa.
“Saya kira sudah sesuai. Tadi saya tanya anak-anak juga suka karena setiap hari menunya berganti,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kualitas layanan program perlu terus ditingkatkan, baik dari sisi penyajian maupun variasi menu makanan yang diberikan kepada peserta didik.
Sebagai bagian dari evaluasi berkelanjutan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan meminta sekolah-sekolah menyampaikan laporan mengenai menu yang disediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Nanti sekolah-sekolah kami minta memberi laporan tentang menu yang disediakan oleh SPPG di sekolah-sekolah,” jelasnya.
Program MBG merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Melalui program tersebut, siswa memperoleh asupan makanan bergizi, yang diharapkan dapat mendukung kesehatan, pertumbuhan, dan kemampuan belajar mereka.
Abdul Mu’ti berharap pelaksanaan MBG terus mengalami penyempurnaan sehingga tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter generasi muda Indonesia.
“Yang saya lihat sekarang sudah oke. Tinggal bagaimana kualitasnya terus ditingkatkan agar memberi manfaat yang lebih baik bagi anak-anak,” katanya menandaskan. (Tri Wahyuni)
