Suara Karya

Perkuat Kompetensi Guru, UNJ Kembangkan Budaya Riset melalui Pendampingan Teachers as Researchers di Jakarta Barat

JAKARTA (Suara Karya) : Program Studi Magister (S2) Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Penguatan Kompetensi Profesional Guru SMK melalui Pendampingan Penulisan Karya Ilmiah di Jakarta Barat.”

“Kegiatan yang dilaksanakan Selasa, 19 Mei 2026 itu merupakan hasil kolaborasi antara tim dosen S2 Pendidikan Matematika FMIPA UNJ dengan MGMP Matematika SMK Jakarta Barat Wilayah 2, serta bertempat di SMK Negeri 13 Jakarta, Jalan Rawa Belong, Jakarta Barat, ” jelas Tian Abdul Aziz, Ph.D., dosen Program Studi S2 Pendidikan Matematika FMIPA UNJ, di Jakarta, kemarin.

Kegiatan ini katanya, diikuti oleh guru-guru matematika dari berbagai SMK di Jakarta Barat yang tergabung dalam MGMP Matematika SMK Jakarta Barat Wilayah 2. Pendampingan difokuskan pada penguatan kompetensi profesional guru melalui peningkatan kemampuan melakukan penelitian serta menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas dan layak dipublikasikan sebagai bagian dari pengembangan profesi berkelanjutan.

Menurut Ketua tim pelaksana kegiatan Tian Abdul Aziz, Ph.D., yang juga dosen Program Studi S2 Pendidikan Matematika FMIPA UNJ, yang bertindak sebagai ketua tim pengabdian kepada masyarakat mengatakan, kegiatan ini juga didukung oleh anggota tim, yaitu Dr. Lukman El Hakim, M.Pd. dan Dwi Antari Wijayanti, M.Pd..

Selain melibatkan dosen katanya, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran bagi mahasiswa. Sebanyak empat mahasiswa dari rumpun Matematika Universitas Negeri Jakarta turut berpartisipasi sebagai anggota pendukung kegiatan. Para mahasiswa berkontribusi dalam proses persiapan, pelaksanaan, dokumentasi, pendampingan diskusi kelompok, serta membantu peserta dalam penyusunan outline penelitian.

Keterlibatan mahasiswa merupakan implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkolaborasi secara langsung dengan guru dan dosen dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam paparannya, Tian Abdul Aziz, Ph.D. menekankan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teacher as designer yang mampu merancang pembelajaran secara inovatif, serta teacher as researcher yang secara sistematis meneliti praktik pembelajaran untuk menghasilkan perbaikan yang berkelanjutan. Menurutnya, budaya penelitian di kalangan guru merupakan salah satu fondasi penting dalam meningkatkan mutu pendidikan sekaligus memperkuat profesionalisme guru di era transformasi pendidikan berbasis data.

Materi yang diberikan disusun secara komprehensif, mulai dari urgensi penulisan karya ilmiah bagi guru, konsep Teacher as Designer, Teacher as Researcher, Data in Teaching and Learning Process, berbagai jenis karya ilmiah guru, identifikasi topik penelitian yang potensial, karakteristik penelitian yang layak dipublikasikan, hingga teknik menyusun proposal penelitian secara sistematis. Peserta juga memperoleh pendampingan mengenai penentuan masalah penelitian, penyusunan judul penelitian, penulisan latar belakang, kajian teori dan penelitian terdahulu, metodologi penelitian, pengembangan instrumen penelitian, analisis data penelitian, penyusunan hasil dan pembahasan, kesimpulan dan saran, teknik sitasi dan manajemen referensi, strategi publikasi artikel ilmiah, kesalahan umum dalam penulisan ilmiah, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan bertanggung jawab dalam proses penulisan karya ilmiah. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan berbagai contoh publikasi ilmiah yang dapat dihasilkan oleh guru, baik berupa artikel jurnal, prosiding seminar, maupun publikasi ilmiah lainnya.

Pelaksanaan kegiatan dirancang menggunakan pendekatan pendampingan berkelanjutan yang terdiri atas lima tahapan utama. Tahap pertama adalah analisis kebutuhan, yang dilakukan melalui penyebaran angket dan wawancara untuk mengidentifikasi kebutuhan, kendala, serta pengalaman guru dalam melakukan penelitian dan publikasi ilmiah. Hasil analisis ini menjadi dasar dalam penyusunan materi dan strategi pendampingan agar sesuai dengan kebutuhan peserta.

Tahap kedua berupa workshop Teachers as Researchers, yang bertujuan membangun paradigma bahwa penelitian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari praktik profesional guru. Pada tahap ini peserta diajak mengidentifikasi berbagai permasalahan autentik di kelas yang berpotensi dikembangkan menjadi topik penelitian.

Selanjutnya, pada tahap ketiga, peserta memperoleh pendampingan intensif dalam menyusun outline penelitian. Guru dibimbing mulai dari merumuskan masalah, menentukan tujuan penelitian, memilih metode yang sesuai, hingga menyusun kerangka proposal penelitian yang siap dikembangkan menjadi penelitian tindakan kelas maupun penelitian pendidikan lainnya.

Sebagai tindak lanjut, tahap keempat dilaksanakan melalui pembentukan Professional Learning Community (PLC). Melalui komunitas belajar profesional ini, para guru didorong untuk saling berdiskusi, memberikan umpan balik terhadap rancangan penelitian, berbagi pengalaman mengajar, serta membangun budaya kolaborasi akademik yang berkelanjutan. Pendekatan PLC diharapkan mampu menjaga keberlanjutan program sehingga aktivitas penelitian tidak berhenti setelah kegiatan pelatihan selesai.

Pada tahap kelima, tim pelaksana melakukan evaluasi terhadap seluruh rangkaian kegiatan, baik dari aspek pemahaman peserta, kualitas outline penelitian yang dihasilkan, maupun tingkat kepuasan peserta terhadap program pendampingan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan pemahaman mengenai metodologi penelitian serta memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menyusun proposal maupun artikel ilmiah.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai pertanyaan mengenai permasalahan pembelajaran yang mereka hadapi di sekolah. Guru-guru juga berhasil menghasilkan ide-ide penelitian yang relevan dengan kondisi nyata di kelas serta menyusun outline penelitian yang berangkat dari permasalahan autentik dalam proses pembelajaran matematika di SMK. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran guru bahwa penelitian dapat menjadi sarana refleksi sekaligus inovasi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.

Ketua MGMP Matematika SMK Jakarta Barat Wilayah 2, Abimanyu Hadi Sukoro, M.Pd., Gr., yang juga menjadi peserta dalam kegiatan tersebut, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan program pengabdian ini.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam membantu guru mengembangkan profesionalismenya. Pendampingan yang diberikan sangat sistematis, mulai dari menemukan masalah penelitian hingga strategi publikasi. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga semakin banyak guru yang mampu menghasilkan karya ilmiah dan mempublikasikannya,” ungkapnya.

Melalui kegiatan ini, Program Studi S2 Pendidikan Matematika FMIPA UNJ berharap terbentuk budaya riset di kalangan guru matematika SMK yang berkelanjutan, sehingga guru tidak hanya menjadi pelaksana pembelajaran, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menghasilkan inovasi berbasis penelitian untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Program pengabdian kepada masyarakat ini juga mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 4 (Quality Education) melalui peningkatan kompetensi profesional guru dan penguatan kualitas pembelajaran; SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan inovasi pendidikan berbasis penelitian; SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, MGMP, sekolah, dan mahasiswa sebagai bentuk kemitraan strategis dalam peningkatan kapasitas guru; serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) karena pengembangan kompetensi profesional guru berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pengembangan karier yang berkelanjutan. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini juga memperkuat implementasi pembelajaran berbasis pengabdian (service learning), sehingga memberikan manfaat tidak hanya bagi guru sebagai mitra, tetapi juga bagi mahasiswa dalam mengembangkan kompetensi akademik, sosial, dan profesional. (Warso)

Related posts